Latest Updates
Tampilkan postingan dengan label pesantren. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pesantren. Tampilkan semua postingan

5 Pondok Tahfidz Qur’an Terbaik di Indonesia

5 Pondok Tahfidz Qur’an Terbaik di Indonesia
Kalau pendidikan Indonesia ada dititik ternadir, maka pondok pesantren adalah harapan yang paling depan. oleh sebab itu pondok pesantren, khususnya tahfidz, banyak menjadi tujuan orang tua sebagai sarana terbaik untuk mendidik anaknya. Berikut lima pondok pesantren tahfidz terbaik se Indonesia yang berhasil kami rangkai.

1. Yanbu’ul Qur’an, Kudus
Kudus memang kota yang dikenal sebagai rujukan para santri yang berniat untuk menghafal Qur’an. Bahkan karena banyaknya pondok Tahfidz, kota Kudus selanjutnya dikenal sebagai Madinatul Tahfidz. Artinya lingkungan di sana secara keseluruhan sangat mendukung untuk melaksanakan program Tahfidz Al Qur’an. Salah satu pondok yang paling masyhur tentu saja Yanbu’ul Qur’an.

Di pondok yang diasuh oleh KH. Arwani Amin ini para santri tidak hanya belajar menghafal, tapi juga belajar Qira’at Sab’ah. Memang pada hakikatnya tidak ada satu metode paten yang diterapkan untuk menghafal, yang terpenting santrinya mampu menghafal. Namun demikian ketatnya standard yang diberlakukan menjadikan kudus sangatlah terkenal. Seorang santri tidak boleh menyetorkan hafalan sebelum bacaannya sesaui dengan standard kudus. Oleh sebab itu meski datang dari pondok manapun, mereka harus mengulang untuk menghafal. Dan ini bisa berjalan sampai sekitar 1-2 bulan.

Diawali dari pelafadzan huruh hijaiyyah, selanjutnya ta’awudz, dll. Makanya jika anda sering mendengar belajar fatihah saja sampai berbulan-bulan, mungkin semua itu berasal dari pondok ini. Oleh sebab itu hafalan pondok Yanbu’ dikenal nomor wahid. Sedangkan untuk lama menghafal tidak menggunakan target, kesadaran individu. Bagi yang malas bisa lama, bagi yang rajin akan berjalan sangat cepat, bahkan belum ada setahun sudah khatam.


2. Darul Huffadz 77, Bone
Kalau di Jawa ada pondok Yanbu’ul Qur’an, di luar Jawa, tepatnya di Kajuara, Bone berdiri sebuah pondok yang dikenal dengan sebutan tuju-tuju, nama itu merujuk pada nama tempat berdirinya pondok pesantren. Pondok ini murni untuk tahfidz dengan disertai pendidikan berkurikulum Kulliyatul Mu’allimin Al Islamiyah (KMI) yang tidak merujuk kepada depag atau diknas. Pondok ini juga tak lepas dari peran karismatik Kyainya, KH. Lanre Said yang tanpa meminta bantuan, atau sumbangan dalam mendirikan pondok ini.

Pondok ini sangat menjunjung tinggi kebebasan bermadzhab, oleh sebab itu pondok pesantren tersebut sangat menerima bantuan namun dengan syarat tidak mengikat dan tidak bersyarat. Namun demikian meskipun khusus dalam hal tahfidz, pondok ini mewajibkan santrinya untuk mengikuti pendidikan di KMI, karena pendidikan agama Islam diajarkan di dalamnya terutama yang berkaitan dengan Qur’an dan Hadist. Kalau dilihat dari kurikulum dalam KMI, maka sangat mirip dengan pondok Gontor, baik dari isi muatan dan pelajaran. Namun sangat luar biasa karena pondok ini memiliki inti dalam kegiatan menghafalkan al Qur’an.

3. Muqaddasah, Ponorogo
Pondok yang satu ini diasuh oleh salah satu dari tiga pimpinan pondok Gontor, KH. Hasan Abdullah Sahal. Meskipun demikian, pondok ini sangat berbeda dengan kurikulum di Gontor, bahkan sampai saat ini belum mencantumkan program KMI seperti pondok Tuju-Tuju. Tapi justru karena hal ini pondok Muqaddasah menjadi Istimewa, karena kegiatan tahfidz yang ada di dalamnya dijalankan melalui sebuah sistem yang baku, bahkan untuk kegiatan sekolah boleh dikatakan dikesampingkan meskipun juga dijalankan.

Secara tempat pondok ini sangat biasa, namun semua dikondisikan untuk menghafal. Jika anak tersebut masih kecil, maka akan dicucikan bajunya, kecuali santri yang sudah SMA. Bahkan bagi yang anak kecil kadang dimandikan. Setiap anak juga dibebaskan untuk melakukan apa saja, dalam arti bermain ataupun berolah raga. Namun jika sudah datang waktu setelah subuh hingga jam tujuh, selepas ashar hingga jam lima, dan selepas magrib hingga jam delapan, semuanya wajib menghafal. Dalam arti, di pondok ini keadaan dikondisikan meskipun tidak ditetapkan targetnya. Tapi justru karena ini kemudian banyak santri yang mampu mengkhatamkan hafalannya.

Selanjutnya santri juga tidak bisa keluar dari lingkungan pondok secara bebas dalam waktu satu tahun, kecuali sakit untuk berobat, libur tahunan, dan rekreasi yang diadakan pihak pesantren. Dan uniknya, jika anda memondokkan anak di sini, baik yang kelas satu sd ataupun sudah dewasa, dalam jangka tiga bulan anak tersebut tidak boleh dijenguk terlebih dahulu. Sistem inilah yang menjadikan pondok ini menjadi salah satu yang terbaik, bahkan dalam waktu kurang dari tiga tahun sudah khatam al Qur’an.

4. Isy Karima, Solo
Pondok yang satu ini juga mengkhususkan dalam hafalan. Pondok yang ada di kaki gunung Lawu ini memiliki suasana sangat sejuk, bahkan romantis. Pondoknya memiliki lingkungan yang dijaga sangat bersih, dilengkapi dengan kamera cctv di beragam sudutnya. Boleh dikatakan meski pondok ini memadukan kurikulum salaf dan modern, namun memiliki gaya lebih modern.

Keistimewaan pondok ini menurut penulis adalah penyiapan para ilmuan yang hafidz Qur’an. Ada salah satu program yang setingkat SLTA dan dikhusukan untuk laki-laki yang disyaratkan memiliki kemampuan dalam bidang IPA dan Matematika. Pondok ini menerapkan target khusus untuk nilai Matematika dan IPA diikuti dengan tuntutan menghafal dari bagian pondok pesantren. Oleh sebab itu alumni dari pondok ini tergolong cerdas dalam beragam bidang ilmu pengetahuan.

Pondok ini juga sangat menerapkan apa yang dianjurkan oleh al Qur’an dan As Sunnah, beberapa olah raga yang tersedia di antaranya memanah, dan berkuda. Dua olah raga yang dianjurkan rasul. Oleh sebab itu pondok ini tidak merujuk pada satu madzhab, bahkan jika anda berkunjung ke sana, akan tampak betapa terlihat rapinya santri tapi dengan pakaian Islami. Relasi dengan timur tengah yang sangat dekat juga menjadikan pondok ini memiliki nilai tersendiri.

5. Darul Qur’an, Tangerang
Pondok yang diasuh oleh Yusuf Mansur ini boleh dikatakan belum lama berdiri, namun kiprahnya sudah sangat fenomenal, terutama karena sosok karismatik Yusuf Mansur itu sendiri. Pondok ini secara sistem memadukan kepada kurikulim diknas dan pesantren. Meskipun penulis belum melihat keistemewaan khusus untuk program tahfidz seperti pondok-pondok sebelumnya, namun kiprahnya dan relasinya dengan dunia international patut untuk diacungi jempol.

Sayangnya banyak yang mengkritik bahwa pondok yang satu ini hanya untuk kalangan menengah atas saja, bahkan untuk masuk harus menyiapkan biaya hingga 17.500.000, dengan spp setiap bulan mencapai 1.250.000. jika uang saku untuk santri setiap bulan mencapai 750.000, maka total satu tahun biaya yang harus dikeluarkan mencapai 41.500.000. oleh sebab itu untuk pondok tahfidz terbaik yang kelima ini suatu saat bisa menerima usulan untuk direkomendasikan pondok tahfidz yang lain melalui affany198@gmail.com

Pesantren Unik dan Aneh Di Indonesia

Pesantren Unik dan Aneh Di Indonesia
1. Pondok Pesantren Bawah Tanah

Pondok pesantren (Ponpes) Syeh Maulana Mahgrobi sebuah pesantren langka sekaligus satu-satunya di tanah air bahkan mungkin di dunia. Tidak seperti pesantren lainnya yang dibangun bertingkat di atas permukaan tanah. Ponpes Syekh Maulana Mahgrobi, pimpinan KH Subhan Mubaroq letaknya cukup ekstrem, berada pada kedalaman 20 m di dalam tanah.

Ponpes ini berada di Dusun Wire Desa Kedungombo, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban, Jatim. Pimpinan Ponpes Syekh Maulana Mahgrobi, punya alasan tersendiri kenapa pesantrennya dibangun di lorong-lorong goa, jauh di bawah permukaan tanah. Salah satu alasan yang mendasari pembangunan pesantren ini yakni bahwa, “semua ayat suci dari kitab-kitab suci di zaman nabi-nabi, diturunkan Allah di bawah tanah atau di dalam goa.”  Merujuk penerimaan wahyu itu Kiai Subhan ingin mengajarkan ilmu keagamaan berada di dalam goa

2. Pondok Pesantren Tiban

Banyak yang berasumsi tentang keberadaan bangunan ini dengan mengaitkannya pada hal-hal yang berbau mistis. Asumsi ini didasarkan atas kemegahan dan keindahan arsitektur yang dimiliki bangunan ini serta pembiayaan untuk menyokong pembangunannya. Namun asumsi yang selama ini mengiringi keberadaan Pondok Pesantren Salafiyah Bihaaru Bahri ‘Asali Fadlaailir Rahmah tidaklah benar.

Sejatinya, Pondok Pesantren Salafiyah Bihaaru Bahri ‘Asali Fadlaailir Rahmah ini sudah ada sejak tahun 1963. Pondok pesantren ini dipimpin oleh Hadratus Syaikh H Ahmad Bahru Mafdlaluddin Shaleh Al-Mahbub Rahmat Alam atau yang lebih dikenal dengan nama romo Kyai Ahmad. Beliau jugalah yang mendesain arsitektur bangunan pondok ini. Walaupun tidak mempunyai latar belakang seorang arsitek, romo kyai Ahmad bisa mendesain sebuah bangunan megah yang bernuansa arab dan timur tengah tersebut atas hasil dari istikharah. Dari hasil istikharah itulah pada sejak tahun 1978 Pondok Pesantren Salafiyah Bihaaru Bahri ‘Asali Fadlaailir Rahmah dimulai proses pembangunannya dan terus berlanjut hingga sekarang. Sedangkan untuk masalah pendanaan dan ketenagakerjaan semuanya bersifat swakarsa dari para jamaah pondok.



Ada yang unik dari pengerjaan pembanguan pondok pesantren ini, yaitu pengerjaannya tidak menggunakan alat-alat berat modern. Semuanya murni dikerjakan oleh tenaga manusia. Kata fenomenal tampaknya cocok untuk menggambarkan masjid milik Pesantren Salafiyah di Jawa Timur. Mulai dari arsitekturnya yang luar biasa, hingga namanya yang cukup panjang, akan menuai decak kagum jamaah yang datang.



Masjid Pondok Pesantren Salafiyah, Bihaaru Bahri "Asali Fadlaailir Rahmah di Malang, Jawa Timur adalah salah satu di antara masjid dengan gaya arsitektur terbaik di Indonesia. Keunikan arsitektur masjid dan pesantren ini membuat siapa saja terkagum-kagum. Semua yang telah datang pun akan sepakat, bahwa cukup sulit untuk menentukan gaya yang dipakai karena sangat unik. Ada yang bergaya China, India, Romawi, hingga Timur Tengah.



Tidak hanya masjid, arsitektur luar biasa ini diterapkan di seluruh bangunan pesantren yang terdiri dari 10 lantai. Uniknya, hampir setiap ruangan yang ada di Pesantren Salafiyah, Bihaaru Bahri "Asali Fadlaailir Rahmah tidak sama. Jadi, pengunjung yang datang akan menemukan suasana yang berbeda di setiap ruangannya.



3. Pondok Pesantren Preman


Sebuah pondok pesantren di Kota Semarang mencoba mengkhususkan diri memberi pencerahan kepada para preman atau berandal jalanan. Dengan metode yang disebut tombo ati (obat hati), pengelola pondok pesantren ini berupaya mengajak para bandit jalanan agar sadar dan bekerja dengan cara yang benar.

Pesantren itu sendiri bernama Pesantren Istighfar, dimaksudkan agar tempat ini bisa menjadi tempat bertobat. Pengelola pesantren, Mohamad Kuswanto atau Gus Tanto setiap hari melayani sedikitnya 250 orang preman yang belajar ibadah.

Semuanya adalah santri kalong atau santri yang datang ke pesantren jika ada acara atau membutuhkan konsultasi. Menurut Gus Tanto, pesantren itu didirikan secara fisik tahun 2005, meski aktivitasnya sudah ada sejak 20 tahun lalu.

Jika melihat bangunanya, sepintas bangunan pesantren ini lebih mirip sebuah klenteng dengan hiasan ornamen relief naga. Keunikan lain, lampu disko di dalam mushola dan tulisan "Wartel Akherat 0.42443" yang tertera pada dinding mushola. Sederetan angka jumlah rakaat salat, yang melambangkan cara berkomunikasi dengan Allah. Semua keunikan pada ponpes tersebut melambangkan perjalanan para preman yang ingin kembali ke jalan yang benar.

4. Pondok Pesantren Waria


Ini pesantren khusus waria. Karena itu santri pun dibebaskan untuk “memilih” menjadi laki-laki atau perempuan, termasuk dalam hal beribadah. Pesantren ini juga dikenal luas dengan sebutan Pondok Senin Kamis. Pondok pesantren (ponpes) ini berdiri setelah salah seorang waria bernama Maryani yang awalnya mengikuti pengajian di pondok pesantren yang berada di Jalan Godean asuhan Kiai Hamroli Harun.
 
Ponpes yang berdiri sejak 2008 ini memiliki 25 santri yang aktif. Kegiatan pondok pesantren mulai dari pengajian, salat berjamaah, belajar membaca Alquran, atau tukar pikiran yang diadakan setiap Minggu sore. Tetapi tidak ada paksaan yang mewajibkan waria masuk dalam ponpes. 

Di pondok ini disediakan kain sarung dan mukena untuk solat. Santri bebas memilih pakaian, yang penting nyaman.

Dari beragam sumber. Jika ada usulan silahkan e mail ke pemutuscinta@gmail.com


.



5 Pondok Pesantren Tertua di Indonesia

5 Pondok Pesantren Tertua di Indonesia
Klasifikasi kami kali ini tentang pondok pesantren tentu saja berdasarkan tahun berdirinya.

1. Sidogiri, Pasuruan, Jawa Timur 1718 M.

Terdapat dua versi tentang tahun berdirinya Pondok Pesantren Sidogiri yaitu 1718 atau 1745. Dalam suatu catatan yang ditulis Panca Warga tahun 1963 disebutkan bahwa Pondok Pesantren Sidogiri didirikan tahun 1718. Catatan itu ditandatangani oleh Almaghfurlahum KH Noerhasan Nawawie, KH Cholil Nawawie, dan KA Sa’doellah Nawawie pada 29 Oktober 1963.

Dalam surat lain tahun 1971 yang ditandatangani oleh KA Sa’doellah Nawawie, tertulis bahwa tahun tersebut (1971) merupakan hari ulang tahun Pondok Pesantren Sidogiri yang ke-226. Dari sini disimpulkan bahwa Pondok Pesantren Sidogiri berdiri pada tahun 1745. Dalam kenyataannya, versi terakhir inilah yang dijadikan patokan hari ulang tahun/ikhtibar Pondok Pesantren Sidogiri setiap akhir tahun pelajaran.

Rata-rata per tahun jumlah santri putra jumlahnya sebanyak 5063 dan putri 5137. Pondok pesantren ini ini juga menyelenggarakan sistem pendidikan madrasdah yakni Tipe A sebanyak : 79 madrasah (di Pasuruan) dan Tipe B sebanyak 34 madrasah (di luar Pasuruan).

2. Jamsaren, Jawa Tengah 1750 M

Pondok Jamsaren merupakan pondok pesantren tertua di Pulau Jawa sebab pondok pesantren yang berlokasi di Jalan Veteran 263 Serengan Solo ini sudah berdiri sekitar tahun 1750. Dalam sejarahnya, pondok ini melewati dua periode, setelah mengalami kevakuman hampir 50 tahun, antara 1830 – 1878.
Semula, pondok pesantren yang didirikan pada masa pemerintahan Pakubuwono IV ini hanya berupa surau kecil. Kala itu, PB IV mendatangkan para ulama, di antaranya Kiai Jamsari (Banyumas). Nama Jamsaren itu juga diambil dari nama kediaman Kiai Jamsari yang kemudian diabadikan hingga sekarang.

Vakumnya pondok pada 1830 disebabkan terjadinya operasi tentara Belanda. Operasi itu dimulai lantaran Belanda kalah perang dengan Pangeran Diponegoro pada 1825 di Yogyakarta. Karena kalah, Belanda melancarkan serangkaian tipu muslihat dan selanjutnya berhasil menjebak Pangeran Diponegoro. Karena itu pada 1830, para kiai dan pembantu Pangeran Diponegoro di Surakarta dan PB VI bersembunyi dan keluar dari Surakarta ke daerah lain, termasuk Kiai Jamsari II (putra Kiai Jamsari) dan santrinya.

Kini, jumlah santri pondok pesaantren Jamsaren lebih dari 2000 santri yang terdiri dari santri muqim sekitar 160 santri.

3. PPMH (ponpes Miftahul Huda), Gading Malang, Jawa Timur 1768 M

Pondok Pesantren Miftahul Huda (PPMH) Malang didirikan oleh KH. Hasan Munadi pada tahun 1768. PPMH juga dikenal dengan nama Pondok Gading karena tempatnya berada di kelurahan Gading Kasri, Kecamatan Klojen, Kota Malang. Bahkan nama yang terakhir lebih masyhur dikalangan masyarakat.

KH. Hasan Munadi wafat pada usia 125 tahun. Beliau mengasuh pondok pesantren ini selama hampir 90 tahun. Beliau meninggalkan empat orang putra yaitu: KH. Isma'il, KH. Muhyini, KH. Ma'sum dan Nyai Mujannah. Pada masa itu, Pondok Gading belum mengalami perkembangan yang signifikan.

Kepada KH Moh. Yahya inilah KH. Isma'il menyerahkan pembinaan dan pengembangan Pondok Gading. KH. Ismail kemudian wafat pada usia 75 tahun setelah mengasuh Pondok Gading selama 50 tahun. Sebagai pengasuh generasi ketiga, KH. Moh. Yahya memberi nama pondok pesantren gading dengan nama "Pondok Pesantren Miftahul Huda". Beliau mengizinkan para santrinya untuk menuntut ilmu di lembaga formal di luar pesantren. Sebuah kebijakan yang cukup berani dan tergolong langka saat itu. Ternyata dengan kebijakan ini, Pondok Gading berkembang semakin pesat.

4. Buntet, Cirebon, Jawa Barat 1785 M

Data tertulis mengungkapkan, pondok pesantren Buntet didirikan oleh Kiyai Muqayim pada tahun 1758. Pada awalnya, mbah Muqayim (sebutan untuk Kiyai Muqayim bagi anak cucunya) membuka pengajian dasar-dasar al-quran, bagi masyarakat Desa Dawuan Sela (1 Km ke sebelah Barat dari Desa Mertapada Kulon (lokasi pondok pesantren Buntet sejak tahun 1750-an). Tempat berlangsungnya pengajian itu adalah sebuah Panggung Bilik Bambu ilalang yang di dalamnya terdapat beberapa kamar tidur atau pondokan yang dindingnya terbuat dari bambu dan atapnya terbuat dari pohon ilalang (sejenis rumput yang tinggi).

Sistem kepemimpinan yang berlangsung di Pondok Pesantren Buntet, secara umum juga terjadi di beberapa Pesantren tradisional lainnya yaitu selalu dipimpin oleh kiyai keturunan dari kiyai pendiri Pesantren (mbah Muqayim atau K. Muta’ad). Namun dipelajari secara mendasar, sistem kepemimpinan di Pondok Pesantren Buntet memi-liki ciri khas tersendiri. Kekhasan ini terjadi, karena latar belakang berdirinya Pondok Pesantren Buntet yang didirikan oleh seorang kiyai (mbah Muqayim) yang berasal dari keluarga Kesultanan Cirebon, sehingga dalam mengendalikan kepemimpinannya tampak seperti mengendalikan sebuah kerajaan yakni diutamakan kepada kiyai putra dari istri pertama. Ini dapat diperhatikan, antara lain dari sebutan “Buntet Pesantren” dan suasana daerah.

5. Darul Ulum, Banyuanyar, Pamekasan, Madura 1787.

Pondok Pesantren Banyuanyar bermula dari sebuah langgar (musholla) kecil yang didirikan oleh Kyai Itsbat bin Ishaq sekitar tahun + 1787 M/1204 H. Beliau adalah salah seorang ulama kharismatik yang terkenal dengan kezuhudan, ketawadhuan dan kearifannya yang kemudian melahirkan tokoh-tokoh masyarakat dan pengasuh pondok pesantren di Pulau Madura dan Pulau Jawa.

Nama Banyuanyar diambil dari bahasa Jawa yang berarti air baru. Hal itu didasari penemuan sumber mata air (sumur) yang cukup besar oleh Kyai Itsbat. Sumber mata air itu tidak pernah surut sedikitpun, bahkan sampai sekarang air tersebut masih dapat difungsikan sebagai air minum santri dan keluarga besar Pondok Pesantren Banyuanyar.

Santri Pondok Pesantren Banyuanyar kini berjumlah 4.323 orang, terdiri dari santri putra sebanyak 3.211 orang dan santri putri sebanyak 1.112 orang, yang berasal dari berbagai daerah di Pulau Madura, Pulau Jawa, Kalimantan, dan Sumatera serta dari negara sahabat.

Dari Beragam Sumber

5 Pesantren Terbaik di Indonesia

Sangat sulit untuk mengerucutkan pondok pesantren menjadi lima yang terbaik. Namun demikian apa yang menjadi landasan kami adalah beragam faktor keunikan, dan juga keunggulan yang tidak dimiliki oleh pondok-pondok lainnya, atau setidaknya pondok tersebut merupakan pelopor dari sistem-sistem pesantren yang berkembang di Indonesia untuk saat ini.


1. Ponpes SIDOGIRI Pasuruan

Ponpes ini menempati urutan pertama yang terbaik dengan beberapa alasan utama. Salah satunya adalah pengaruhnya dalam pendidikan bermodel pesantren di Indonesia. Ia merupakan pesantren yang tertua (1718), bukan hanya itu, tapi ponpes ini bukan hanya tetap eksis, tapi terus berusaha untuk maju dan berkembang hingga sekarang. Ponpes SIDOGIRI juga salah satu pondok yang sangat berani tetap mempertahankan pendidikan salaf atau dengan kata lain murni untuk mengkaji ilmu agama dan faktanya pondok ini mampu mempertahankan santri hingga puluhan ribu (Putra dan Putri), padahal umumnya pondok pesantren sudah mulai goyah dengan pola seperti ini dan lebih sering mencampur dengan pendidikan umum.

Yang patut diperhitungkan dari pesantren ini adalah keberhasilannya dalam membentuk sebuah kemandirian finansial berkat berbagai usaha bisnisnya yang sangat sukses, terutama dalam lembaga keuangan bernama BMT (Baitul Mal Wat Tamwil) yang memiliki banyak cabang, bahkan memiliki website tersendiri (http://bmtugtsidogiri.co.id/kantor-pelayanan.html). Ponpes ini juga memiliki banyak waralaba dan banyak usaha lainnya.

Tidak sampai di sini, ia juga memiliki ma’had ali, setingkat universitas yang bernama tarbiyatul Mu’allimin. Apalagi dengan pengiriman guru ke berbagai penjuru nusantara menjadikan jaringan alumninya sangatkuat.

2. Ponpes Langitan

Ponpes Langitan termasuk salah satu pondok pesantren tertua di Indonesia. Berdiri pada tahun 1852 di daerah Tuban Jawa Timur. Pondok ini sangat berpengaruh terutama di kawasan Surabaya ke barat, seperti Gresik, Lamongan, Tuban, Bojonegoro, Cepu, dll. Pondok ini patut diberikan respek mengingat kemampuannya untuk eksis dan berkembang dengan pendidikan yang murni salaf.

Namun yang menjadikan Langitan sebagai ponpes terbaik adalah kualitas alumninya yang menunjukkan kiprah dan peran luar biasa di kancah pondok pesantren, dan peta da’wah nasional. Dari yang berawal hanya surai kecil, pondok ini selanjutnya melahirkan tokoh-tokoh besar dan menjadi pengasuh pondok pesantren. Seperti KH. Kholil Bangkalan, KH. Hasyim Asy’ari (Tebu Ireng), KH. Syamsul Arifin, dan lain-lain. Boleh dikatakan pondok ini merupakan sesepuh pondok pesantren salaf. Figur kharismatik salah satu pengasuhnya yaitu KH Abdullah Faqih di kancah politik nasional juga menambah dikenalnya nama pesantren ini.

3. Pondok Modern GONTOR

Yang satu ini pantas menjadi terbaik karena merupakan inovator dan pelopor sistem pendidikan pondok pesantren modern yang diilhami antara lain oleh sistem pendidikan di Aligarh Muslim University, Syanggit, Santiniketan, dan Al Azhar. Pondok ini mampu meramu hingga menemukan sebuah sistem pendidikan modern dengan kurikulum tersendiri dan menjadikannya sebagai rujukan pondok pesantren modern di Indonesia.

Ciri khas pondok Gontor adalah penerapan kedisiplinan yang tinggi, kemampuan untuk berbahasa Arab dan Inggris dengan menjadikannya sebagai bahasa sehari-hari, kerapian berpakaian seperti masyarakat perkotaan membuat pondok ini banyak membuka mata batin masyarakat perkotaan yang dulunya enggan untuk mondok di pesantren.

Secara keseluruhan, sistem yang diterapkan Pondok Modern Gontor berjalan dengan sangat sukses. Dan setiap kesukesan selalu menciptakan tren baru. Saat ini banyak pesantren yang menyebut dirinya "modern" memfoto-copy apa yang dilakukan Gontor dengan beberapa modifikasi. Contoh seperti pondok Darun Najah Jakarta, Darul Qalam Banten, dan beragam pondok modern yang ada di Indonesia.

4. Pondok Pesantren AL-KHAIRAAT PALU

Yang satu ini adalah pondok pesantren terpopuler dan paling berpengaruh di luar Jawa, khususnya di Sulawesi dan Indonesia timur. Yang menjadikan pondok ini masuk kategori terbaik adalah peran habaib di dalamnya. Dalam arti pondok ini merupakan pesantren besar yang didirikan dan diasuh oleh seorang habaib. Yang lebih membuat pondok ini masuk jajaran terbaik tentu saja banyaknya santri dan cabang yang dimiliki. Bayangkan saja, staff pengajarnya berjumlah 7.000, dan unit pendidikannya berjumlah 1.400.

Ponpes ini boleh dikatakan sebagai salah satu pondok terbesar yang memasukkan beragam pelajaran kesenian dalam kurikulumnya. Pelajaran nasyid, samrah atau jepeng oleh pengurus Pondok Pesantren Al Khairat, Palu, Donggala, Sulawesi Tengah, dijadikan penyeimbang pelajaran agama dan umum. Tak heran alumninya menduduki beragam posisi penting dan menjadi da'i handal di kawasan Indonesia Timur.

Bila anda ingin menikmati keindahan jepeng --tarian ala Timur Tengah-- cukup datang ke Pesantren Al-Khairaat. Terutama di Bulan Syawal. Sebab, pada bulan itulah biasanya Al-Khairaat menggelar bulan kesenian. Ada lomba membaca syair, nasyid, juga jepeng.

Dengan kesabaran dan kegigihan seperti itulah, Al-Khairaat yang kini memiliki sekitar 210 ribu santri dan mahasiswa, sukses membangun basis pengembangan di Sulawesi, Maluku, Papua, Halmahera, dan pulau Bunyu di Kalimantan Timur. Bahkan sekarang Al-Khairaat telah memiliki basis pengembangan di Condet, DKI Jakarta.

5. Pondok Pesantren NURUL JADID Paiton Probolinggo

Untuk pondok yang satu ini sebenarnya lebih berdasarkan kelengkapan pendidikan yang dimiliki. Jika pada umumnya pondok pesantren fokus di salah satu bidang, atau tingkat saja, namun untuk Nurul Jadid memiliki tingkatan keragaman pendidikan yang sangat lengkap. Oleh sebab itu kami masukkan menjadi salah satu pondok pesantren terbaik di Indonesia.

Pesantren ini memiliki lembaga pendidikan dari yang paling bawah seperti TK, SLTP (MTS, SMP), SLTA (SMA, MA, SMK) sampai perguruan tinggi dengan berbagai jurusan baik agama (STAINJ) maupun sains seperti teknologi informasi (STT Nurul Jadid) dan kesehatan (STIKES).

Selain itu, madrasah diniyah, ma'had aly dan tahfidz Al-Quran juga tersedia di pesantren ini sehingga tidak ada alasan bagi umat Islam untuk tidak mengirimkan putranya ke pesantren dengan alasan ketiadaan jurusan yang dicari. Lebih detail.

Dari beragam sumber