Latest Updates
Tampilkan postingan dengan label 5 Fakta Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 5 Fakta Indonesia. Tampilkan semua postingan

5 alasan kota Jakarta tidak akan bebas banjir

5 alasan kota Jakarta tidak akan bebas banjir

Anda pasti sudah akrab dengan banjir yang kini hampir setahun sekali pasti menghiasi televisi. Banjir bukan lagi disebut sebagai sebuah musibah, tapi sebagai sebuah siklus rutin yang harus terjadi di Indonesia terutama di Jakarta. Boleh dikatakan banjir adalah sebuah musim baru selain kemarau dan hujan yang harus dinikmati oleh penduduk ibukota setiap tahunnya. Bagi kami banjir di Jakarta tidak akan pernah selesai, tapi justru akan bertambah parah, berikut 5 alasannya.

1. Bukan Salah Jakarta

Banjir yang melanda Jakarta tidak sepenuhnya salah dari kota Jakarta itu sendiri, tapi juga kota-kota lain di sekitarnya. Hal ini dikarenakan kota Jakarta merupakan hilir dari dua daerah yang menjadi hulu, yaitu: Bogor dan Cianjur (termasuk puncak). Oleh sebab itu bila anda tinggal di ibukota, pasti sering mengalami yang namanya banjir kiriman. Jakarta tidak hujan, tapi banjir. Hal ini terjadi karena kota Bogor dan Cianjur yang berperan sebagai hulu diguyur hujan lebat. Pada akhirnya Jakarta yang berperan sebagai hilir akan kebanjiran. Hal ini akan diperparah lagi bila Bogor, Cianjur, sekaligus Jakarta ditimpa hujan lebat, maka sudah bisa dipastikan banjir akan melanda dengan hebat mengingat menampung air dari Bogor dan Cianjur saja tidak sanggup, apalagi ditambah hujan yang mengguyur Jakarta itu sendiri. Oleh sebab itu selama yang disalahkan hanya Jakarta, atau pembenahan banjir hanya di kota Jakarta saja, selamanya banjir tidak akan pernah usai.

2. Sistem Drainase Buruk
Drainase pada dasarnya sistem serapan air ke dalam tanah, baik yang alami seperti adanya banyak pepohonan sehingga menyerap air dan menahannya lebih awal, atau buatan seperti saluran air kecil, atau saluran bawah tanah yang biasa disebut dengan gorong-gorong. Fungsi utama Drainase merupakan mengatur suplai air agar tidak begitu saja terlepas sehingga terjadi gempuran air yang tidak tertahan dan membentuk banjir. Nah persoalan utama adalah bukan hanya semakin sedikitnya tanah resapan, tapi hampir punahnya tanah resapan terutama di Bogor, Cianjur, dan Jakarta. Puncak yang menjadi Hulu sudah tidak mampu menahan air karena lahannya sudah terbangun menjadi Villa, dan Jakarta bukan daratan yang baik untuk mengatur air, mereka hanya bisa menampung mengingat lahan penuh dengan bangunan, selokan penuh dengan sampah, sungai-sungai juga sudah berubah menjadi tempat sampah masal. Struktur yang akut ini menjadikan Jakarta sulit mengusir banjir, apalagi kawasan puncak terus menerus mengubah lahan menjadi villa, maka jika kawasan hulu saja sudah tidak mampu menampung air, bisa dipastikan air yang mengalir ke Jakarta menjadi semakin banyak.

3. Gemar Menumpuk Sampah

Kalau anda sering pergi ke Jakarta, sudut-sudut tempat pasti akan menemukan tumpukan-tumpukan sampah. Masalahnya sungai yang seharusnya menjadi tempat mengalirnya air, justru berubah fungsi menjadi tong sampah alternatif bahkan paten. Faktanya setiap kali banjir, hampir 30 ton sampah diangkut dari lokasi banjir. Artinya sampah merupakan salah satu penyebab terjadinya banjir, sayangnya masyarakat Jakarta tidak berpikir banjir ketika membuang sampah, akibatnya banjir semakin mulus menghiasi Jakarta. Fakta lain, sebenarnya curah hujan yang ada di Jakarta tidak jauh berbeda setiap tahunnya, bahkan banjir yang melanda tahun 2013 yang hampir setara dengan tahun 2007 pada hakikatnya bukanlah berdasarkan hujan, karena ternyata curah hujan justru lebih rendah dibanding di tahun 2007, namun nyatanya debit air di bendungan Katulampa justru lebih tinggi dibanding di tahun 2007 (180 cm), dan penelitian membuktikan bahwa sampahlah menjadi biang keladinya karena menutup tiga pintu di Karet dari empat pintu utama.

4. Buruknya Sistem Tata Kota
Anda pernah memikikirkan untuk membandingkan New York dengan Jakarta? Di Newyork hampir semua lahan sudah menjelma gedung kecuali beberapa taman, tidak jauh berbeda dengan Jakarta. Masalahnya pembangunan yang terus menerus dilakukan dengan masiv, tidak diiringi dengan sistem tatanan kota yang baik. Di kota-kota besar eropa banyak gorong-gorong besar setinggi dua kali orang dewasa menjadi muara air, seperti di film-film. Apakah di Jakarta anda temukan? Pasti tidak!!! Padahal pembangunan yang terus menerus menjadikan air dari sungai harus langsung ke laut, padahal dahulu dialirkan terlebih dahulu ke sawah-sawah, baru kemudian ke laut. Sawah itu kini sudah lenyap, air tidak bisa dialirkan, mentok di bangunan, sungai tidak bisa menampung begitu banyak debit air, dengan hitungan hanya jam setelah hujan deras datang, Jakarta sudah diprediksikan tenggelam.

5. Tanah Lebih Rendah

Tahukah anda bahwa 40% tanah di Jakarta lebih rendah dari permukaan air laut ketika pasang. Artinya pada dasarnya sifat tanah di Jakarta seperti layaknya tanah di Belanda. Artinya bagaimanapun lancarnya air mengalir ke laut, air tersebut akan balik arah ke darat. Bahkan sebenarnya Jakarta sudah diprediksikan pada sepuluh tahun ke depan akan hampir tenggelam pada puncak musim hujan datang. Tengok saja dari daerah yang terkena banjir tiap tahun semakin meluas, air juga semakin tinggi. Maka jika terus menerus hanya sebatas menyalahkan beberapa pihak, JAKARTA AKAN TENGGELAM.

5 Setan Paling Populer di Indonesia

5 Setan Paling Populer di Indonesia
Fakta membuktikan bahwa tiap negara memiliki karakteristik penghuni alam gaib yang berbeda-beda. Seperti Vampir yang ada di daratan asia timur, atau Drakula yang sering muncul di barat. Nah indonesia juga memiliki beberapa sosok makhluk halus yang khas dengan rakyat Indonesia,

1. Pocong
Hantu yang satu ini sebenarnya lebih merujuk kepada sosok mayat muslim pada prosesi pemakaman di mana akan dibalut dengan kain kafan dan diikat dibeberapa bagian agar tidak terlepas. Namun demikian, anehnya tidak semua negara muslim memiliki istilah setan pocong, justru di Indonesia yang sangat familiar dengan setan yang satu ini, terutama di Jawa dan di Sumatra. Biasanya sosoknya digambarkan dengan tubuh yang terbungkus kain kafan, tapi dengan wajah terbuka, ada yang mengatakan wajahnya rata, menyeramkan, bahkan ada juga yang mengatakan wajahnya seperti manusia. Namun yang menjadi kontroversi adalah jalannya, menurut dongeng, cara berjalan dari hantu yang satu ini melayang-layang, namun seringkali ditemukan diberagam film loncat-loncat. Saking populernya jenis setan yang satu ini, seringkali diangkat menjadi judul film layar lebar.

2. Kuntilanak
Pada dasarnya kuntilanak diambil dari bahasa melayu (pontianak, puntianak) yang berarti sebuah singkatan dari perempuan mati beranak. Entah mengapa dari puntianak berubah menjadi Kuntilanak. Namun demikian setan yang satu ini tidak hanya populer di Indonesia, tapi juga kawasan Asia tenggara. Nah, selidik punya selidik, ternyata yang membawa sosok hantu horor ini adalah orang Indonesia juga, hebat kan. Bahkan hantu ini juga populer di Malasyia.
Sosok yang satu ini lebih berupa gadis cantik dengan bau harum khas bunga kamboja berambut panjang, ia akan mendekati pria-pria yang tidak berhati-hati, hingga selanjutnya menjelma menjadi makhluk penghisap darah seperti drakula. Sosok yang menjadi kuntilanak awalnya adalah seorang wanita yang hendak melahirkan anak tapi sudah meninggal, hingga akhirnya ia melahirkan di liang lahat dari bagian punggung belakang. Oleh sebab itu kemudian di Indonesia ada setan populer yang disebut Sundel Bolong dengan punggung yang berlubang yang dulu dipopulerkan oleh film-film yang diperankan Suzana.

3. Tuyul
Kalau hantu yang satu ini bukan haya khas miliki Nusantara, tapi juga wabil khusus di pulau jawa. Tuyul ini awalnya merupakan sosok janin yang keguguran, atau bayi kecil mungil yang mati ketika lahir, makanya karakter dari tuyul tidak jauh-jauh berbeda dengan anak-anak, gemari bermain, suka tertawa, kepalanya gundul, kecil kerdil, dan kadang ada yang menganggap bahwa Tuyul memiliki kulit berwarna keperakan. Yang menjadikan sosok hantu ini populer adalah sifatnya yang memiliki majikan. Tuyul konon bisa dipekerjakan sang majikan untuk mencuri uang, tentu saja tanpa ketahuan (tertarik ya... hihihi). Makanya kalau ada orang Jawa kaya mendadak, biasanya masyarakat akan mengatakan, “Ngingu (memelihara) tuyul”.

4. Gendruwo
Kalau yang satu ini memiliki asal usul dengan umat Hindu dan Buddha, juga legenda yang ada di tanah nusantara. Istilah Gendruwo sendiri berasal dari bahasa Kawi gandharwa dan berakar lagi dari bahasa Sanskerta gandharva yang berarti makhluk berwujud manusia berbadan besar berkelamin pria dan tinggal di kahyangan. Gandharwa sangat populer dalam kepercayaan Hindu dan Buddha, dan bukan rahasia lagi kalau dulu nusantara didominasi kuat oleh dua agama ini sebelum datangnya Islam dan juga masa penjajahan.
Dalam legenda sosok yang satu ini digambarkan sebagai hantu yang berbadan besar seperti kera, dan kadang memakan manusia atau bahkan menjaga manusia. Bahkan di beberapa stasiun tv ketika menayangkan cerita legenda sering menampakkan sosok yang satu ini.

5. Wewe
Wewe, atau wewe gombel, atau juga sering disebut dengan nenek gombel sebenarnya lebih kepada mitos dari orang-orang jawa untuk menggambarkan sebuah roh jahat, atau makhluk halus yang gemar menculik anak-anak, tapi tidak melukai, mencelakai, hanya menculik saja. Anehnya yang diculik oleh makhluk yang satu ini biasanya hanya anak-anak yang tidak diperhatikan oleh orang tuanya. Ketika orang tua tersebut mulai memperhatikan anaknya, wewe gombel, atau kalong wewe akan kembali mengembalikannya.

Sosoknya seperti nenek tua dengan payudara kendor menggantung. Tapi yang menjadikan sosok yang satu ini paling populer bagi orang Indonesia adalah seringnya digunakan oleh orang tua untuk menakuti anak-anaknya yang tidak mau masuk rumah kalau sudah magrib tiba, “Awas ada kalong wewe, nanti diculik! Ayo masuk.” Biasanya seperti ini.

5 Kota Indonesia Dengan Julukan Van Java

5 Kota Indonesia Dengan Julukan Van Java
Jika anda sering bepergian ke luar kota, seringkali pasti menemukan ada kota yang memiliki julukan dengan embel-embel van Java. Ini bahasa belanda yang berarti dari Jawa, seperti pemain sepakbola terkenal dari belanda bernama Robi van Persie, dll. Berikut lima kota di Indonesia yang memiliki julukan disertai dengan embel-embel van Java belakangnya.

1. Bandung, Paris Van Java
Tahukah anda bahwa sebenarnya julukan Paris van Java diberikan oleh orang eropa sejak dulu kala ketika menjajaki Bandung? Sekitar abad 18, atau tepatnya 1825, kota Bandung sudah mendapatkan julukan si Paris yang ada di pulau Jawa. Mengapa Paris? Usut punya usut ternyata dua kota tersebut ibarat saudara kembar mengingat keduanya merupakan kota sejuk dan tidak terlalu panas. Dan satu lagi yang membuat Bandung disebut Paris van Java, ternyata dari dulu kota ini sudah dikenal sebagai kota fashion dan jajan. Karena itu kalau sahabat sedang ke Bandung, jangan heran kalau melihat gadis-gadis Bandung, atau yang lebih dikenal dengan mojang parahiyangan memiliki dandanan super modis, senyum ramah, dan bisa jadi anda langsung jatuh hati.

2. Garut, Swiss Van Java
Kalau Bandung disebut sebagai Parisnya Jawa, maka lain lagi dengan Garut yang memiliki julukan Swiss dari Jawa. Kota yang ramai dengan pernikahan singkat si bupati Aceng ini disebut Swissnya Jawa karena memiliki kesamaan dalam pesona alamnya, terutama keindahan gunung-gunung, danau-danau yang bersih, dan kawasan-kawasan perbukitan menjadikannya ibarat Swiss yang memiliki pesona alam yang sama. Julukan ini juga ternyata sudah tersemat sejak zaman kolonial Belanda. RatuWilhelmina, Ratu Belandan di saat itu, kabarnya sampai memiliki peristirahatan pribadi di Garut, ibarat villa-villa orang tajir jaman sekarang lah.
Salah satu gunung yang terkenal di Garut tentu saja gunung Papandayan. Dengan tinggi sampai 2.665 meter di atas permukaan laut, kesegaran dan kesejukannya pastilah tidak kalah dengan gunung Alpen.

3. Tasikmalaya, Delhi Van Java.
Tasikmalaya dijulki Delhi dari Jawa bukan karena goyangannya lho... Tapi Tasikmalaya pun ternyata di juluki Delhi Van Java, karena secara geografis daerah perbukitan yang ada di sana sangat mirip seperti yang ada di Delhi, India. Bila anda ke Tasik, pasti jalanan yang naik turun tanpa henti dirasakan, perbukitan-perbukitan indah akan terhampar sepanjang perjalanan yang anda miliki di Tasikmalaya, dan itu adalah pesona yang mirip jika anda berkunjung ke Delhi India.

4. Karimunjawa, Carribean Van Java
Ingat Jack Sparrow dengan film terkenalnya the Pireate of Carribean? Nah kalau anda ingat pasti anda tidak pernah lupa bahwa Karribia terdiri dari beberapa pulau kecil dan hamparan lautan yang ada di dalamnya. Karimunjawa juga demikian, keindahannya ibarat berada di Karibia dengan hamparan laut luas namun diselingi dengan pulau-pulau kecil, oleh sebab itu disebut dengan Carribean van Java. Tapi tahukah anda bahwa Karimunjawa bukanlah kabupaten seperti Tasik, Garut, atau Situbondo. Karimunjawa hanyalah sebuah kecamatan di kabupaten Jepara Jawa tengah. Di sana terdapat Taman nasional terkenal yang disebut dengan Taman Nasional Karimunjawa.

5. Situbondo, Africa Van Java
Kalau membaca Africa mungkin anda terbayang dengan orang berpostur besar, kuat, dan berkulit hitam. Apakah orang Situbondo juga demikian? Jangan salah sangka sobat. Situbondo disebut dengan Africa dari Jawa karena ketika anda ke sana akan merasakan suasana khas Africa dengan hamparan savana dan kawasan satwa liar (Taman Nasional Baluran). Jika anda berniat ke Bali melewati Situbondo, maka anda harus siap-siap dengan kendaraan berisi bahan bakar yang full, karena seketika anda masuk ke sana, tidak akan anda temukan pom bensin, atau tempat persinggahan, yang ada adalah hamparan luas alami dengan balutan satwa liar berkeliaran. Oleh sebab itu Situbondo disebut Africa van Jawa.

5 Fakta Rendahnya Pendidikan Di Indonesia

5 Fakta Rendahnya Pendidikan Di Indonesia
Indonesia dalam hal ekonomi mungkin boleh sedikit berbangga dengan beragam indeks-indeks prestasi. Tapi dalam pendidikan Indonesia jauh tertinggal dari negara berkembang lainnya. Bahkan Indonesia ditempatkan sebagai salah satu negara dengan peringkat terendah di dunia dalam pencapaian mutu pendidikan oleh Programme for International Study Assessment (PISA) pada tahun 2012. Berikut fakta-fakta yang membuktikan betapa buruknya pendidikan yang ada di Indonesia.

1. Pendidikan Tanpa Sistem
Indonesia adalah negara dengan pendidikan termasuk paling menyedihkan. Dikatakan demikian karena faktanya dari dulu tidak ada sistem yang baku. Selalu berubah-ubah seiring berubahnya kabinet yang ada di Indonesia. Anda pasti ingat kalau dulu ada sistem Cawu yang satu tahun terdiri dari 3 Cawu. Sekarang menggunakan semester. Belum lagi pergantian kurikulum yang tidak pasti, dari KBK, KTSP, sampai entah kapan berhenti. Tapi nyatanya tidak ada perubahan, semua hanya persoalan merubah, tapi tidak ada perubahan. Faktanya sekolah bertaraf international di Indonesia tidak menggunakan kurikulum nasional, justru menginduk pada IBS (International Baccalaureate System).

2. Kualitas Guru Terlalu Rendah
Sudah bukan rahasia kalau guru di Indonesia terlalu rendah mutunya. Kualifikasi dalam bidang yang diampu tidak memenuhi standar. Bahkan sertifikasi yang memang meningkatkan kesejahteraan guru justru membuat guru lebih sibuk dengan sendirinya, dan bukan memikirkan bagaimana kualitas muridnya. Tuntutan untuk mengejar sertifikasi juga membuat guru lebih sibuk memanipulasi data. Lebih sibuk dengan persoalan-persoalan adiministratif dan memikirkan bagaimana menambah jumlah murid di sekolah, rebutan jam pelajaran, dan bukan kualitas sekolah.

3. Budaya Mencontek Tinggi
Kalau berbicara siswa yang mencontek, telinga kita sudah biasa mendengar. Tapi persoalannya mencontek ini sudah menjadi budaya, akhirnya guru juga mencontek, coba saja lihat tes-tes yang diikuti oleh guru-guru, ujian-ujian yang diikuti oleh guru, mereka melakukan... ah sudahlah, terlalu ironis. Makanya kalau ada anak mencontek guru tidak bisa berbuat apa-apa. Lawong gurunya juga men... tit... tit... sensor, biar pada ngerasa.

4. Indonesia Bukan Negara Pendidikan
Indonesia adalah negara dengan kualitas pendidikan rendah. Jelas, pasti, and absolutely. Soalnya memang pemerintah juga menganggap pendidikan bukanlah sesuatu yang penting di negara ini. Padahal untuk bisa mengikuti persaingan global, pendidikan adalah faktor utama. Makanya banyak orang pintar di Indonesia lari ke luar negeri. Soalnya memang tidak dihargai. Beda dengan orang kaya yang diberi tempat bahkan diberi banyak kedudukan. Jangan nangis ya kalau jadi orang pintar. Tidak perlu pakai data untuk membuktikan ini. Berapa banyak sekolah yang ambruk? Nah loh...

5. Tidak Perlu Belajar Menghadapi UN
Sebenarnya banyak faktor lain. Tapi kami lebih memasukkan ini karena maraknya persoalan tentang relevansi Ujian Nasional. Tahukah anda bahwa sekarang bila datang UN siswa-siswa tidak setakut kepala sekolah. Kepala sekolah, sekarang, justru yang paling takut kalau anak-anaknya tidak lulus, sehingga kualifikasi sekolah rendah, tahun berikutnya tidak akan banyak siswa yang masuk, dan eng ing eng, dana bos yang didapat akan sedikit. Masuk akal kan? Kalau banyak anak tidak lulus, kepala sekolah pasti akan dipojokkan. Padahal siswanya yang goblok. Makanya jangan aneh ada UN banyak yang nyontek, pastinya biar lulus. Akhir kata, pendidikan Indonesia tidak akan terus maju saudara-saudara.


Dari beragam sumber, referensi, dan renungan pribadi.

5 Fakta Pengemis di Indonesia

5 Fakta Pengemis di Indonesia
Di Indonesia, mengemis sudah menjadi profesi yang menjanjikan, mereka tidak sebatas miliki penghasilan tetap, tapi juga mereka mampu memiliki penghasilan lebih. Kami berusaha mengurai 5 fakta pengemis di Indonesia agar anda tidak mudah tertipu.

1. 25 Juta Perbulan
Jika anda seorang manager, jangan dulu sombong dengan pengahasilan anda yang mencapai 10.000.000 setiap bulan hingga memberikan kepada pengemis selembar 2.000an. Tahukah anda bahwa paling sedikit pengemis mendapatkan uang setiap harinya 100.000. Jika hari minggu juga terhitung libur, maka mereka akan mengantongi sekitar 2.500.000. Ini paling minim. Ada juga yang setiap pekan mampu meraup 3.500.000. Maka sebulan akan mendapatkan 14.000.000. Jangan terkejut, masih banyak yang berpenghasilan di atas ini. Bahkan ada yang setiap bulan mendapatkan 25.000.000. Ngiler pastinya.

2. Berpura-pura Cacat
Jika anda melihat ada anak muda mengemis, maka anda pasti enggan memberikan uang. Tapi pengemis sekarang cerdas, mereka mencacatkan diri dan berusaha sebisa mungkin menjadikan anda melas melihat mereka. Mereka tidak sebatas pura-pura sakit. Ini belum seberapa, tapi mereka berpura-pura cacat. Tangan mereka pura-pura buntung, kaki mereka pura-pura busuk. Makanya pengemis di Indonesia butuh modal untuk beli obat merah, dan perban. Bahkan ada yang pura-pura hamil tua padahal bantal. Jangan tertipu yua.

3. Berbagi Peran
Nah kalau penikmat blog ini pernah melihat pengemis yang berdua, sebenarnya mereka berbagi peran. Mereka seperti truk gandeng. Yang satu biasanya sebagai senjata, entah buta, sakit parah, cacat betulan, benar-benar buta, tapi yang satunya yang memanfaatkan. Dia yang meminta-minta dan kemudian hasil akan dibagi-bagi. Atau yang satunya menggendong hingga sampai di satu tempat yang cacat diletakkan begitu saja dengan senjata mangkuk atau bekas aqua gelas.

4. Tidak Pernah Berkurang
Jumlah pengemis di Indonesia tidak pernah berkurang, bahkan setiap tahun jumlahnya semakin bertambah. Contoh, untuk tahun 2007, Jawa Tengah masih sekitar 21.000. Dan sekarang sudah menjadi berkali-kali lipat (5.146.267). Faktor utama tentu saja faktor ekonomi, dan mudahnya mencari uang dengan pengemis asal tidak malu. Kebiasaan mengemis menciptakan mental yang malas untuk bekerja, sehingga setiap tahunnya terus bertambah. Bahkan walikota bandung pernah menawarkan para Gepeng untuk menjadi tukang sapu dengan gaji 40.000 perhari, dan itu ditolak karena jauh dari penghasilan Gepeng mania. Fantastis bukan?

5. Jawa Tengah Sumber Pengemis.
Jika penikmat blog ini pernah mengendarai mobil melewati jalan-jalan di jawa tengah, mungkin anda tidak menemukan pengemis yang berderet-deret di tepi jalan. Namun demikian, sebenarnya jawa tengah adalah sumber pengemis terbesar di Indonesia. Diperkiraan secara angka mencapai 5.146.267 jiwa atau 15,34 persen dari jumlah penduduk. Wowowow...


Dari beragam sumber

5 Fakta Tentang HIV dan AIDS di Indonesia

5 Fakta Tentang HIV dan AIDS di Indonesia
Mungkin penikmat panduan unik belum banyak tau bagaimana penyakit yang paling mengerikan di dunia ini berada di Indonesia. Berikut 5 fakta terkait HIV dan AIDS di Indonesia,

1. 15 April 1987 AIDS Menyapa Indonesia

Aids dalam sejarah Indonesia ternyata dibawa oleh seorang wisatawan yang berusia 44 tahun asal Belanda, Edward Hop. Saat itu turis tersebut meninggal di Rumah sakit Sanglah, Bali. Menurut catatan pada masa itu, hanya ada enam orang di Indonesia yang didiagnosis HIV positif, dua di antara mereka mengidap AIDS. Nah sekarang jumlahnya dah berapa tuh? Pesat bukan pertumbuhannya?

2. 70 pengidap HIV/AIDS kaum muda
Dari total 9.883 kasus HIV dan 2.224 kasus AIDS, ternyata 45% di antaranya adalah kaum muda (20-39 tahun). Hal ini logis kalau melihat fakta bahwa populasi pemuda Indonesia yang berjumlah 74 juta jiwa 27 persennya terlibat narkoba. Sedangkan yang terlibat dalam seks bebas mencapai 20,9 persen. Nah berarti anak muda di Indonesia yang melakukan seks bebas sudah mencapai 1.480.000. wowowowowow... gimana masa depan bangsa ini?

3. 3 Laki : 1 Wanita
Inilah perbandingan penderita AIDS di Indonesia. Wajar kalau laki-laki yang lebih banyak, karena biasanya laki-laki yang paling sering ‘jajan’. Sayangnya mereka masih miliki istri, hingga kemudian justru menularkan kepada Istri mereka yang tidak tahu apa-apa. Seperti contoh di Jakarta, data yang menyebutkan, hampir 1.000.000 pria adalah pelanggan pekerja seks komersial. Nah dari sini loh akan mulai menjalar.

4. Jakarta Paling Banyak
Berdasarkan data terakhir dari Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan hingga Juni 2011, secara kumulatif jumlah kasus AIDS Provinsi DKI Jakarta menempati posisi pertama. Disusul Papua, Jawa Barat, dan Jawa Timur. Maklum, Jakarta adalah pusatnya Indonesia, terlalu banyak penduduk, terlalu banyak pula yang jajan di sana.

5. Paling Tinggi Di Asia
Bukan angkanya sobat, tapi pertumbuhan pengidap HIV/AIDS di Indonesia adalah yang paling tinggi di antara negara Asia lainnya. Kebanyakan kalau di Indonesia penyebabnya adalah hubungan seksual, karena ini menular dari satu ke yang lainnya. Faktanya lokalisasi di gang Sadar saja, Baturraden, Purwokerto, satu harinya membutuhkan 200 kondom, satu bulan sampai 6000. Iya kalau sempat dipakai, kalau lupa. Belum lagi di lokalisasi lain di Indonesia. Nah sayangnya mereka masih punya istri, di rumah menularkan lagi.   


Dari beragam sumber.